Selasa, 09 Januari 2018

Harapan



Hari yang tak pernahku sangka akhirnya datang
Haruskah aku senang?
Atau meringkuk ketakutan?
Kau datang lagi entah dari mana
Mengusik ketenangan jiwa
Memaksa peri kecil menggeliat dari tidurnya

Aku tersenyum kegirangan
Saat terkabarkan kau akan datang
Namun aku menangis tersedu berbarengan
Saat kau putuskan hilang dari peradaban
Terpikirkan wajahmu yang tenang
Senyum yang menggetarkan
Egoku telah kau campakkan
Mungkin ini adalah harapan



Bolehkah Aku membencinya?



Bolehkan aku membencinya?
Membenci dia yang selalu membunuh tawa
Menawarkan duka tanpa tanya
Dengan akrabnya merasuki setiap mimpi-mimpi yang berkelana

Bolehkah aku membencinya?
Yang selalu merubah tawa menjadi luka
Tanpa henti memeras air mata
Menyayat hati tanpa belas rasa

Bolehkah aku membencinya?
Dia yang tak melihat tanpa mata
Hanya ada kebencian merasuk jiwa
Saat mulut enggan ucapkan kata

Bolehkah aku membencinya?
Yang selalu melepas dekapan tangan dengan paksa
Mencampakkan mimpi-mimpi yang terangkai sempurna
Memutuskan harapan yang melekat pada jiwa
Lalu apa yang bisa aku harapkan darinya
Jadi, bolehkah aku membencinya?

Kamu (Lagi)



Masih ingatkah saat pertama kali kita jumpa?
Tersipu malu tiap tatap muka
Manis senyummu membuat duka sirna
Tatapan menghanyutkan membuat diri lupa
Khas suaramu memanggil nama
Terngiang jauh ke angkasa
Menempel di kedua daun telinga
Ah, sungguh lucu diri ini
Tak pernah enggan membahasnya
Meski aku sudah tak penting lagi
Sejak dia putuskan untuk melepas pergi
Hanya karena alasan dusta
Kamu, ya kamu (lagi)

Semoga Kamu

Semoga kamu dalam keadaan baik,  Semoga Allah melindungimu selalu,  Semoga kamu bisa mewujudkan cita-citamu,  Semoga kamu tidak pernah berhe...